HOME » Article »

Karya-Karya & Performa Berkarya Nyoman Gunarsa

Esai Kuratorial Mikke Susanto

Sampai sekarang, setiap kali saya mengunjungi Museum Istana Presiden Yogyakarta, saya tercenung dan berhenti tepat di sebuah lukisan. Dari ruang yang dipakai, lukisan ini tidak terlalu mencolok, besarnya hanya 145x145cm. Lukisan tersebut ada di lantai atas Ruang Pamer I. Saya sendiri juga mengalami keheranan terus-menerus sejak lukisan tersebut terpampang di sana. Keheranan ini lebih terkait karena lukisan ini mengundang tafsir yang tak berkesudahan sampai tulisan ini saya selesaikan.

 

Saya bekerja membantu bagian koleksi benda seni--sebagai konsultan kuratorial--Istana Presiden Republik Indonesia, sejak 2009. Pada awalnya saya hanya membantu untuk melaksanakan tugas pembagian koleksi yang akan disebar dari Istana Merdeka dan Istana Negara ke istana-istana daerah.

 

Alasan pembagian didasari oleh kepentingan administratif Sekretariat Presiden: ditiadakannya museum yang dahulu didirikan Presiden Suharto--Museum Puri Renatama (berdiri sejak 1971)--oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ruang bekas museum ini akhirnya digunakan sebagai kantor oleh pemerintah yang bersangkutan. Pembongkaran museum ini ditulis pada harian Kompas, Selasa 6 November 2007, dengan tajuk “Museum Bersejarah itu Hanya Tinggal Cerita”.

 

Usai pembagian koleksi, rupanya pekerjaan tidak berhenti di situ. Saya mendapat tugas lanjutan, yaitu melakukan kerja kuratorial museum yang kini telah berdiri di empat istana: Cipanas, Tampaksiring, Bogor dan Yogyakarta. Secara khusus, sub-kurasi yang disepakati untuk Istana Yogyakarta adalah Nasionalisme. Sejarah Yogyakarta sebagai kota penting di masa pasca proklamasi menjadikan konsep Nasionalisme sangat tepat.

 

Konsep “Nasionalisme” dalam hal ini tidak saja sekadar untuk mengungkap kehebatan masa lalu bangsa ini, namun juga bertujuan untuk menggalang rasa kebangsaan baru sebagai upaya untuk menggali nilai-nilai nasionalisme di masa kini. Berbagai bentuk peradaban baru yang kini telah bergulir di masyarakat memberi dampak yang beragam bagi sejarah Indonesia adalah bagian dari wacana nasionalisme.

 

Di samping itu, kepentingan lain seperti pencatatan aktivitas budaya dan kehidupan sehari-hari adalah hal yang  tak mungkin dilepaskan sebagai tajuk penting yang terkait dengan isu nasionalisme. Pendisplaian karya yang bertema aktivitas hidup dan budaya sehari-hari menjadi penggalan atau irisan utama kuratorial.

 

Salah satu lukisan yang menandai irisan sejarah tersebut adalah yang kini terpampang di lantai atas Ruang Pamer Utama I, Istana Presiden Yogyakarta dan membuat saya selalu tercenung. Penggubah karya tersebut adalah Nyoman Gunarsa. Karya tersebut bertajuk Dalang Bali yang dikerjakan antara 1970-1976.

 

Dari Guru ke Guru

Nyoman Gunarsa telah berkiprah sejak tahun 1960 sebagai pelukis. Ia belajar pada para pelukis utama Indonesia, khususnya yang berada di ASRI Yogyakarta. Guru utamanya adalah pelukis legendaris, Fadjar Sidik.

 

Darinya ia mewarisi spontanitas yang luar biasa. Garisnya yang bebas, liar namun tetap mengingat kontrol yang tinggi adalah keterampilan yang sulit dicapai oleh kebanyakan pelukis. Penempatan ruang, proporsi, dan komposisi yang spontan, namun penuh pertimbangan intuisi menyebabkan Gunarsa menjadi sosok yang mumpuni.

 

Affandi adalah orang berikutnya yang mampu menggerakkan semangatnya berkarya. Garis-garis yang diungkapkan secara ekspresif juga menjadikan Gunarsa terlihat menjadi “pewaris” utama Affandi. Inspirasi berkarya yang bersumber dari kehidupan sehari-hari adalah modal yang didapat dari Affandi yang berhasil dimanfaatkan secara maksimal oleh Gunarsa.

 

Meskipun sejak ia masih di Bali inspirasi berkarya dari kehidupan sehari-hari telah menjadi bagian penting dalam seni lukis yang berkembang di Bali. Affandi setidaknya menanamkan spirit untuk tidak berhenti berkarya: dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun. Seruan yang kerap didendangkan oleh Gunarsa pada saya (yang sempat diajar oleh Gunarsa) adalah, “Kerja, kerja, dan kerja!”

 

Dua gurunya yang lain adalah Sudarso dan Trubus. Dari mereka Gunarsa mendapatkan pelajaran guna menguasai perkara kemiripan atas realitas yang dihadapi. Goresan tangan Gunarsa yang sering terlihat liar, ketika berhadapan objek atau subjek yang disukai dan harus dibuat mirip serta membutuhkan presisi, maka sesegera mungkin tangannya berjalan lembut.

 

Seakan-akan ia tahu kemana ujung pena atau kuas akan mengikuti alur objeknya. Dari Sudarso dan Trubus ia mewarisi kemampuan melukis tanpa model alias imajinatif. Dari mereka, Gunarsa mampu menguasai bentuk fisik manusia, melukis gerak, anatomi makhluk hidup, dan pembentukan karakter objek/subjek. Kemampuan ini membuat saya semakin yakin bahwa Gunarsa memiliki keterampilan yang lengkap sebagai pelukis.

 

Dari para gurunya ia mampu memanfaatkan media yang dipegangnya menjadi alat dalam berkarya dengan hasil yang maksimal dan kuat secara teknik. Sketsa-sketsa yang dikerjakan tahun 1960-70an menjadi contoh penting untuk mengungkapkan kemampuan Gunarsa dalam membuat garis tipis dan tebal.

 

Garis tebal dan tipis tersebut dikelola secara unik, namun hasilnya tetap harmonis dan memiliki ketajaman visi terhadap objek yang digambar. Sketsa-sketsa tahun 1960-70an sekilas tampak mirip pertautan antara garis-garis Affandi dan Fadjar Sidik. Akan tetapi pada kasus sketsa berobjek kehidupan dan budaya Bali, identitas Gunarsa muncul.

 

Garis-garis Gunarsa memunculkan dinamika tersendiri dibandingkan dengan garis Affandi. Garis-garis tebal dan patah-patah Gunarsa yang mirip dengan Fadjar Sidik pun, ketika membuat sketsa bertema Bali, menjadi lebih simpel dan memiliki nuansa dan “gerakan” yang aktif.

 

Ahli seni rupa Indonesia, almarhum Prof. Soedarso Sp, pernah menulis bahwa goresan-goresan Gunarsa yang lancar dan kena memberikan penjelasan kepada kita bahwa bukannya tidak beralasan kehadirannya sebagai salah seorang penganut Affandi yang baik.

 

Soedarso menulis bahwa tidak semua orang mampu dan sanggup mengikuti gaya dan teknik yang dilakukan Affandi yang spontan, lancar, dan linier itu, kalau ia tidak memiliki ketangkasan menggores, akan tetapi Gunarsa mampu mengikuti dan menyetarakan diri dengan Affandi secara teknik.

 

Dari pergaulan dan kedekatan dengan para guru yang tinggal di Yogyakarta tersebut--dan bergaul dengan para pelukis seperti Wardoyo, Danarto, Syahwil, Sunart Pr., Mulyadi W.--Gunarsa menjadi pelukis yang tak pernah melewatkan berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari.

 

Begitu kerap ia berlatih, begitu giat bekerja, begitu sering melahirkan karya, begitu tersihir dengan profesinya sebagai pelukis, ia menjadi sosok yang lahir dengan identifikasi yang khas dan unik. Ia melahirkan gaya yang mampu menjadi penanda perkembangan seni rupa modern Bali, sekaligus di Yogyakarta. Oleh karena itu sebagian dari Anda akan merasa bahwa garis Gunarsa memang memberi sihir khusus. Tak salah bila ia sering berkata, “Garis saya adalah nyanyian, warna saya adalah tarian”.

 

Dari Masa ke Masa

Antara tahun 1960-1970an Gunarsa masih merupakan sosok yang secara personal memasuki masa pencarian identitas. Garis-garisnya memanggul nama-nama besar, yakni para gurunya. Tema dan gaya yang diutarakan tak jauh dari para pelukis yang telah diutarakan di atas.

 

Pada tahun 1970-an, baik sketsa dan lukisan Gunarsa mulai berkembang dengan visualisasi yang berbeda. Lukisan-lukisan Gunarsa banyak bercitra dan bertema Bali, secara khusus adalah perangkat seremoni upacara adat Bali. Berbagai perangkat seperti canang, pajegan, tamyang kolem, cili, lamak dan lain-lain menjadi objek yang sering menghiasi kanvas-kanvasnya. Lihat karya-karyanya seperti Sesajen I (1974), Sesajen II (1975).

 

Objek kehidupan budaya seperti pertunjukan tari dan wayang Bali juga menjadi satu kajian yang intens baginya. Visualisasinya setengah (quasi) realistik dan setengah (quasi) dekoratif. Salah satunya adalah lukisan yang ada di Istana Presiden di Yogyakarta. Lukisan Wayang Bali digambarkan secara frontal dengan figur dengan volume tubuh yang realistik. Perspektif ruang juga dibuat senyata-nyatanya.

 

Wayang-wayangnya pun tampak lebih detil dan tidak sebagai sebuah lukisan impresionistik. Penanda dekoratif dalam lukisan tersebut hanyalah pada hiasan detail figur maupun banyaknya bunga-bunga yang berserakan di depan figur-figur tersebut. Hal lain yang signifikan dalam lukisan era 70-an ini adalah munculnya wajah figur manusia yang dilukis secara formal dari samping.

 

Hampir semua wajah yang dilukis menghadap ke samping atau mirip cara membuat wajah wayang. Karena dilukis dengan teknik semacam ini, maka figur-figur dalam lukisan ini menjadi tampak kaku dan dekoratif seperti wayang kulit.

 

Pada akhir dasawarsa 1970an (bahkan sampai saat ini), Gunarsa secara total menawarkan keterampilan teknik melukis ekspresif dalam lukisan-lukisannya. Perubahan ini terjadi hanya pada tataran visual, sedangkan tema-temanya tetap, yakni Bali. Kemampuan dan kekuatan menggarisnya dimaksimalkan.

 

Kanvas-kanvas berbahan kain disulap selayak lembaran kertas kecil baginya. Setiap saat dan dimana pun ia berada, dengan mudah dan cepat menyelesaikan lukisan. Objek-objek yang banyak dilukis adalah para perempuan penari Bali. Latar belakang lukisan-lukisannya--baik yang berbahan cat air maupun cat minyak--menjadi datar. Warna-warnanya cemerlang tanpa nuansa dan dibuat secara frontal. Harus diingat bahwa sifat ruang yang diciptakan datar semacam ini dan warna yang secemerlang ini menjadi penanda penting dalam seni lukis bergaya dekoratif, dimana pun di seluruh dunia.

 

Dalam aspek tema, Nyoman Gunarsa menerapkan seri-seri tema tertentu. Pada masa periode kedua (tahun 1970-1981) Gunarsa menggunakan subjek Sesaji sebagai inspirasi, sehingga disebut Periode Sesaji. Pada mas Periode ketiga (tahun 1981-1987) disebutnya sebagai Periode Aringgit, yang melukiskan potret penari perempuan atau perempuan dalam aktivitas upacara maupun budaya Bali pada umumnya.

 

Pada masa 1970an sampai sekarang, Gunarsa juga menggunakan strategi baru, yakni memfasilitasi lukisannya dengan pigura yang khas dan personal. Pigura-pigura ini dibuat atau dipesan khusus dan dihias dengan goresan dan garis yang telah dibuatnya. Setidaknya ada pigura yang diukir dengan citraan wayang Bali dan citraan berupa pola hias dekoratif khas Bali. Maka pada era visual yang bersifat ekspresif-dekoratif ini Gunarsa semakin kencang melukis (dan dengan mudah mengadakan pameran tunggal).

 

Dari Manual ke Performa

Eksistensi Gunarsa bukan hanya ditandai karena ia merupakan salah satu mahasiswa seni rupa pertama yang berasal dari Bali yang belajar di Yogyakarta sejak tahun 1960 (catatan: orang Bali pertama yang secara formal belajar seni rupa di luar Bali adalah Nyoman Tusan (1933-2002) di Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB tahun 1954-1960).

 

Gunarsa harus dinilai penting justru karena memiliki kemampuan yang kuat dan berkembang sebagai entitas unik. Karya-karyanya mampu menerobos kemapanan estetik yang terjadi di Bali. Bali sendiri pada tahun 1960-an tengah diramaikan oleh situasi seni wisata yang kental pada saat itu.

 

Jika pada era sebelumnya seni lukis Bali terkait dengan tema kehidupan spiritualisme-religius, kehidupan lokal yang amat kental, serta bergaya visual yang homogen, dan dengan menggunakan bahan-bahan atau medium lokal, maka karya-karya Gunarsa mengembangkan ide yang lebih modern.

 

Ia melukis pola hias Bali dan kehidupan religi, sekaligus mengungkapkan kebiasaan-kebiasaan hidup orang Bali yang bersifat sekuler. Meskipun ide melukis realitas sekuler telah dikerjakan oleh para pelukis didikan Pitamaha, Gunarsa mampu mengejawantahkan dengan visualisasi yang sangat personal.

 

Keterampilan melukis dengan teknik manual yang kuat, agaknya dimanfaatkan benar oleh Gunarsa sebagai bagian dari konsep penyajian karya. Proses melukis yang biasanya tidak dipertontonkan (dan biasa dilakukan di studio oleh kebanyakan pelukis), oleh Gunarsa dijadikan bagian yang menarik dan penting.

 

Seperti halnya Affandi yang melukis di lapangan, Gunarsa justru mengangkat lapangan sebagai panggung tontonan yang amat berharga. Ingat semboyan garis saya adalah nyanyian, warna saya adalah tarian.

 

Jika Affandi ditonton orang yang ada di tempat ia ingin melukis, Gunarsa sebaliknya. Ia membawa keterampilan teknik melukis spontannya ke panggung yang ia--dan pengundang--inginkan. “Panggung” Gunarsa lebih luas. Panggungnya memiliki fleksibilitas yang tinggi dan sepertinya dapat dibongkar-pasang semaunya.

 

Jika Affandi menggunakan pakaian ala kadarnya dengan bau keringat yang menyengat, Gunarsa menyiangi tubuhnya dengan fesyen yang glamour dan parfum yang harum. Jika Affandi melukis di lapangan yang kumuh, pasif dan sesekali mengeluh kepanasan, Gunarsa secara genial mengatur tubuhnya sebagai sosok yang atraktif, dengan agresif memerankan diri sebagai aktor yang tak hanya menghasilkan lukisan, tetapi juga kesan yang sama-sama mengakar kuat dalam diri setiap penontonnya.

 

Itulah Gunarsa, “murid” Affandi yang bandelnya melahirkan daya tarik yang lain. Gaya melukis Gunarsa adalah gaya teater yang bebas, luwes, ringan, akan tetapi mengena di hati penonton. Tak salah bila ia kemudian terpilih sebagai model iklan Mastercard pada tahun 1992.

 

Dari Problema ke Masalah

Itulah karya-karya Gunarsa yang tak kering akan ide dan teknik. Sebagai seorang pelukis, hubungan dan jaringan pertemanan menjadi salah satu piranti yang sangat penting. Hal ini menyebabkan karya-karyanya mampu menghiasi dinding para pengagumnya. Lukisan Dalang Bali meskipun ada di dalam Istana Presiden, bukanlah dikoleksi oleh Sukarno.

 

Lukisan ini dibeli oleh kolektor pada akhir dasawarsa 70-an, ketika Gunarsa tinggal di kampung Papringan Yogyakarta. Setelah dibeli, setahun yang lalu saya mengajak Gunarsa untuk menonton Dalang Bali, dan terhenyak. Gunarsa kaget dan tidak tahu bagaimana ceritanya hingga lukisan ini akhirnya kini nangkring di museum istana.

 

Hubungan antara Sukarno dan Gunarsa justru terjadi lebih karena Gunarsa sempat mengikuti pembuatan desain atau sebagai perencana mural di Bali Beach Hotel pada tahun 1962. Desain tersebut yang ditandai dengan diberi acc-Soek kini disimpan oleh Gunarsa.

 

Selain merencanakan mural tersebut, Gunarsa turut membantu dalam pembuatan karya monumental mosaik di Hotel Ambarrukmo (12 x 5 meter yang dipimpin L. Sediono), Samudera Beach Hotel (sekitar 7x3 meter dipimpin oleh Abas Alibasyah), dan membantu membuat relief di Hotel Indonesia (yang dipimpin oleh Harijadi). Pendek kata Gunarsa dan Sukarno saya nilai cukup dekat dan akrab, meskipun hanya untuk proyek tertentu.

 

Dalang Bali  yang secara khusus mengisahkan perihal budaya Bali, agaknya tidak hanya bisa diapresiasi sebentuk rekaman aktivitas lokal. Dalang Bali adalah sebentuk entitas yang mampu menerjemahkan semangat kebangsaan dan memberikan kebanggaan atas berdirinya bangsa ini. Maka tak salah bila Dalang Bali saya anggap sebagai salah satu indikator nasionalisme dalam kuratorial di museum yang dikelola oleh Kementerian Sekretariat Negara RI.

 

Ketercenungan saya setiap kali menghadapi lukisan Dalang Bali sekilas memang terjawab dengan alasan kebanggaan nasional seperti yang diurai di atas. Akan tetapi jawaban itu sendiri rupanya tak menghentikan ketercengungan saya selanjutnya.

 

Lukisan Dalang Bali bagi saya menjadi penanda yang cukup signifikan bagi budaya Bali secara umum. Bali yang terus digerus oleh berbagai problema seperti turisme, kapitalisasi, modernisasi, dan sejumlah problematika internal orang Bali sendiri adalah kasus yang terus akan menjadi episode bagi Sang Dalang.

 

Hilangnya arsip, dokumentasi, dan sejumlah artefak budaya Bali menjadi ketercenungan saya berikutnya. Akankah Bali terus-menerus menjadi subjek yang ”dikorbankan”, baik oleh orang asing, oleh pengelola maupun oleh orang Bali sendiri?

 

Mengingat realitas dan pertanyaan ini, saya menjadi semakin terus tercenung setiap kali menghadapi lukisan Gunarsa ini. Di sisi lain, seharusnya kita beruntung memiliki Bali, akan tetapi kian hari kita justru semakin sering menghadapi realitas yang terbalik. Sungguhkah sang Dalang Bali tengah memainkan episode lain? Gimana nih Pak Nyoman? +++

 

Mikke Susanto, M.A. staf pengajar di FSR ISI Yogyakarta

 

Bibliografi

Coteau, Jean, “Wacana Seni Rupa Bali Modern” dalam Adi Wicaksono (et.all.), Paradigma dan Pasar, Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti, 2003

Dermawan T., Agus, Tarian Garis dan Warna Nyoman Gunarsa, Jakarta: AIA, 1994

Freitag, Thomas U., Moksa: Aquarelle Nyoman Gunarsa, Klungkung: Museum Nyoman Gunarsa Bali, 2003

Kusnadi, Sketsa Widayat dan Nyoman Gunarsa: Perjalanan Seni Lewat Garis, Ubud: Rudana Art Gallery, 1987

Neka, Suteja, The Development of Painting in Bali, Ubud: Yayasan Darma Seni Museum Neka, 1989

Spanjaard, Helena, Exploring Modern Indonesian Art, The Collection of Dr. Oei Hong Djien, Singapore: SNP International, 2004

Sudarmadji, Dari Raden Saleh sampai Aming, Yogyakarta: Akademi Seni Rupa Indonesia, 1974-1975

Sun Ardi, Fadjar Sidik Dinamika Proses Kreasi: Kumpulan Sketsa, Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta, 1991

 

 

 

di baca kali

Comment of Karya-Karya & Performa Berkarya Nyoman Gunarsa

Contact form